Jumat, 22 Maret 2013

Hukum



Hukum

KELOMPOK 6
Anggota kelompok : 111402042 - Eryco Elditia 
                                 111402044 - Tifani Zata Lini F Y
                                 111402080 - Karina Ginting 
                                 111402084 - Rizky Aulia 
                                
Tokoh Hukum Teori Belajar



Edward Lee "Ted" Thorndike 
  (31 Agustus 1874 - 9 Agustus 1949) 
Teori Belajar

Thorndike


Teori belajar Thorndike dikenal dengan “Connectionism” (Slavin, 2000). Hal ini terjadi karena menurut pandangan Thorndike bahwa belajar merupakan proses interaksi antara stimulus dan respon. Jadi perubahan tingkah laku akibat kegiatan belajar dapat berwujud konkrit, yaitu yang dapat diamati, atau tidak konkrit yaitu yang tidak dapat diamati. Teori dari Thorndike dikenal pula dengan sebutan “Trial and error” dalam menilai respon-respon yang terdapat bagi stimulus tertentu.
Hukum Teori Koneksionisme
Hukum kesiapan
yaitu semakin siap suatu organisme memperoleh perubahan tingkah laku maka pelaksanaan tingkah laku tersebut akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung diperkuat.
Hukum latihan
Yaitu semakin sering suatu tingkah laku diulang/dilatih(digunakan) maka asosiasi tersebut akan semakin kuat.
Hukum Akibat
Yaitu hubungan stimulus respons cenderung diperkuat bila akibatnya menyenangkan dan cenderung diperlemah jika akibatnya tidak memuaskan.




Ivan Petrovich Pavlov 
  (26 September 1849 - 27 Februari 1936)
Teori Conditioning

Classic conditioning ( pengkondisian atau persyaratan klasik) adalah proses yang ditemukan Pavlov melalui percobaannya terhadap anjing, dimana perangsang asli dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang diinginkan


Hukum

1). Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat
2). Law of Respondent Extinction
 yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun.


Hukuman
Selain digunakan penguatan, terkadang digunakan juga Hukuman.
Hukuman adalah stimulus yang menurunkan kemungkinan bahwa perilaku akan kembali terjadi.
Hukuman sering kali merupakan rute tercepat untuk mengubah perilaku yang jika diizinkan untuk berlanjut, dapat membahayakan bagi seorang individu.
Sama seperti Penguatan, Hukuman juga terbagi atas 2, Hukuman positif dan Hukuman negatif.

Contoh Konkrit di Dunia IT

Hukum dalam dunia IT seperti diberlakukannya hukuman terhadap tindak kejahatan yang dilakukan para Cracker sesuai kerusakan yang ditimbulkan berdasarkan sudut pandang hukum pidana dan perdata.
Hukum yang menindakpidana terhadap orang yang melakukan tindak plagiarisme yang berhubungan dengan teknologi.
Hukuman bagi mahasiswa yang melakukan plagiarisme pada tugas kuliahnya.
Hukuman terhadap mahasiswa jika terlambat masuk tidak akan diberi masuk kuliah.

Hasil diskusi kami 
-Memang harus diakui bahwa pertimbangan untuk menentukan bersalah atau tidak bersalahnya seorang terdakwa adalah berdasarkan dua (2) alat bukti yang sah, sesuai dengan KUHP yang berlaku. Sementara aspek psikologis lebih berperan dalam menentukan berapa lama hukuman yang diterima terdakwa. Pada kasus khusus, aspek psikologis sangat menentukan, misalkan seorang terdakwa yang mengalami gangguan jiwa, maka hukuman tidak dapat diberikan, alias bebas. Hasil penelitian Probowati (1996) menunjukkan bahwa perilaku terdakwa selama proses persidangan akan memberi andil lamanya seseorang dihukum, artinya semakin baik perilakunya, maka hukumannya cenderung lebih ringan dibandingkan dengan berperilaku negatif selama persidangan.
Sebagai suatu ilmu yang mempelajari perilaku dan proses mental manusia, psikologi memiliki peran penting dalam penegakan hukum di Indonesia. Peran psikologi terutama pada aparat penegak hukum (polisi, jaksa, hakim, petugas lapas) dan pihak-pihak yang terlibat (saksi, pelaku dan korban). Selain itu, psikologi juga berperan pada sistem hukum dan warga yang terkena cakupan hukum.
- Oleh karena itu kami simpulkan bahwa hukuman atau hukum itu memiliki hal positif dan negatif bagi si penerima hukuman tersebut.
   contohnya : (positif) seseorang akan tersadar akan kesalahan yang  dia perbuat
                     (negatif) mungin jika hukuman itu terasa sangat menyakitkan bagi penerima hukuman akan  menerima tekanan sikis bagi penerima yg cenderung tidak baik.

Sumber Referensi
www.wikipedia.com
Feldman, Robert S. 2012. Pengantar Psikologi. Jakarta : Salemba Humanika.








Minggu, 17 Maret 2013

Sensasi dan Persepsi

Dua pengalaman yang memiliki sensasi tersendiri dan menimbulkan persepsi yang tak di duga duga


Berikut ini pengalaman yang menurut saya pengalaman yang masih terkenang dan mungkin tak terlupakam.

Suatu hari saya merasakan sensasi yang mengagukan terhadap novel Kasih 7 hari bisa menjadikan pikiran saya jernih kembali dan menumbuhkan semangat belajar, keluar dari pikiran yang gundah dan sulit belajar walau akhir novel itu cukup menyedihkan.
Dan persepsi yang timbul tentang novel ini cukup menarik lah. Sebagaimana anda tau,
di awal 2010-an saya sekolah di SMA Negeri 11 Medan yang memiliki jam belajar  yang padat. Anda menghadapi masalah, maka risikonya nilai jatuh dan bisa remedial pelajarannya. Kisahnya yang tidak dapat saya lupakan seumur hidup.. Kisahnya yang tidak dapat saya lupakan seumur hidup.

Awalnya, saya jalan-jalan ke sebuah toko Buku di gramedia menyeberang Jalan Gajah Mada, Medan. Di sana saya menemukan Novel Elyas. Karena harganya tidak begitu mahal, dan bukunya tidak begitu tebal, maka saya pikir cocok sebagai bacaan selingan untuk mengusir pikiran yang tidak bisa berkonsentrasi belajar. .

Kata seorang teman, membaca novel adalah latihan memusatkan perhatian kita belajar pengetahuan. Dengan membaca novel kita dilatih untuk berminat memahami sesuatu secara utuh. Ada benarnya!. Bahkan bagi saya pendapat itu seratus persen betul.  Membaca Elyas meluputkan saya dari pikiran yang kacau ketika itu. .

Hari itu adalah hari Sabtu. Jadi pulang sekolah pun cepat dan tidak ada les tambahan di luar maka say bergegas pulang. Sesampai di rumah, aku rebah di atas tempat tidur besi. Saya membaca buku itu sejak siang hingga sore hari. Hanya istrahat untuk solat, makan atau ngemil makan makanan ringan.
 
Saya tidak menghiraukan apapun di sekitarku. Bahkan bau kandang kambing yang selama ini mengganggu, tak berbau lagi. Saya terhipnotis. Lupa membaca buku lain, lupa PR, lupa kerumitan hidup. Novel itu berkisah seolah-olah terjadi di dunia nyata. Saya ditarik ke dalam alur pikiran atau ”ilusinya” Marianne Katoppo.

Mataku hanya tertuju pada kronologis cerita. Menghipnotis saya mengikuti alur cerita dari bab ke bab, mengundang emosi dan ingin melanjutkan membaca terus. Bahkan saya lupa membalik pendahuluan dan kisah akhir novel itu.

Novel itu berkisah tentang percintaan antara seorang putra Padang dan gadis Batak. Dekat sekali dengan latar belakang suku saya dan suku Padang merupakan lingkungan pergaulan di Medan. Saat itu teman satu kampung adalah bersuku  Batak. Jadi kisah seperti ini dekat denganku.  .

Kisah percintaan Elyas si putraPadang berusia 18 tahun dengan Tiur, putri (Batak) seorang sarjana muda begitu memukau.Yang pada awal nya Elyas dan Tiur berjumpa di sebuah stasiun kereta di suatu daerah Sumatra Utara. Yang pada saat itu tidak di sangka sangka Elyas dan Tiur jumpa pada bangku yang sama di dalam suatu gerbong kereta.

Singkat cerita mereka pun saling berkenalan di dalam berbong kereta itu ,dan salig bertukar cerita dengan asyik nya, membaca kisah yang seperti ini mengingat kan saya pada sensasi sensai saat saya PDKT dengan pacar saya dulu , yang kini hmmm... kalian sudah bisa tebak lah akhir cerita nya.

Lanjut cerita Elyas dan tiur yang saling ingin mengenal satu sama lain, akhirnya pun memutuskan untuk pergi ke kencan pertama nya ke sebuah cafe yang sangat romantis lah untuk jaman itu. Dengan memesan makanan dan minuman yang mereka sukai lalu mereka melanjutkan perbincangan yang sempat terputus setelah pertemuan mereka yang pertama di kereta api itu.

Hingga semakin dalam  perasaan itu. Dan tibalah momen yang tidak diinginkan Elyas. Tiba tiba mantan pacarnya tiur pun datang kembali ,dan menjelaskan alasan mengapa ia sempat menjauhi tiur.

akhirnya Tiur mengerti dan masih memendam rasa cinta pada mantannya itu, hingga Tiur pun berlalu begitu saja. Dan Elyas patah hati dan akhirnya bunuh diri. Saya sangat sedih melihat nasib Elyas yang gagah. Dia harus bunuh diri, setelah melalui pergulatan panjang. Kenapa harus bunuh diri? 

Hingga di akhir cerita, saya kaget!. Ternyata Elyas—tokoh utama dalam novel itu, bercerita dari liang kubur, dan sudah lama meninggal.

Begitu melekatnya isi buku Elyas, sama seperti mengingat khasnya bau kandang kambing di samping kamar . Mengingat Elyas, saya teringat kepada kabaikan dan keramahan om saya di Sibolga, pak Maman. Pemilik rumah kos yang baik, keluarga tanpa anak yang rajin sembahyang, rukun dan suka memberi.

Novel Elyas tidak terlalu tebal. Kalau tidak salah, paling 100 halaman lebih sedikit. Tapi novel itu benar-benar sensasional sebagai sebuah pengalaman membaca yang mengasyikkan.

Sampai sekarang, kisah Novel Elyas seperti baru saja saya baca seminggu yang lalu, padahal, itu sudah berlangsung lebih dari tigapuluh tahun.

Novel itu ditulis Mariane Katoppo, seorang penulis dan teolog, lulusan, STT, Jakarta (1977) dan Institut Oecumenique Bossey, Swiss (1979). Sebelumnya membaca novelnya, saya sudah membaca tulisan-tulisan Marianne Katoppo di Sinar Harapan. Walaupun saya sudah lupa isi artikel-artikelnya. Saya kagum atas wanita hebat itu, seperti saya juga mengagumi penulis Anne Bertha Simamora (Suara Pembaruan) dan Threes Nio (Wartawati Kompas).

Buat anda tau Novel Elyas memenangkan sayembara penulisan novel Dewan Kesenian Jakarta, 1975, lalu memperoleh hadiah Yayasan Buku Utama, 1977. Dan melalui novel itu pula, Marianne memenangkan SEA Write, hadiah sastra untuk sastrawan Asia Tenggara yang panitianya berpusat di Bangkok.

Mochtar Lubis, seperti dikutip Tempo, ''Penghargaan itu pantas dan tepat. Saya gembira, karena Marianne wanita Indonesia pertama, bahkan wanita ASEAN pertama, yang memenangkan hadiah tersebut.''

Membaca Novel memang sebuah pegalaman yang tak pernah terlupakan dan selalu mengundang inspirasi baru. Seperti kreatifnya penulis novel itu sendiri. Dan juga saya merasakan sensasi – sensasi yang tidak terbayangkan yang datang memberi semangat baru untuk menjalani kehidupan kedepan.

Oh ya satu lagi sensai yang tidak pernah saya lupakan lagi. Waktu itu bulan Juni, aku menjalani perpisahan SMP ku. Disana aku mengalami banyak sensasi bagiku.  Tapi, yang ingin kuceritakan hanya di topik Jurit Malam. Jurit malam ini yang menurut persepsi ku sangat mendebarkan, karna maklum lah waktu itu aku masih duduk di bangku SMP. Kelompokku dan aku sempat tersasar di suatu tempat.
    Jadi, sehabis acara makan malam, diadakan jurit malam. Jurit malam ini hanya diikuti bagi murid murid yang mau ikut saja, Jadi, tak begitu banyak yang ikut. Di setiap kelompok, terdapat dua guru yang mendampingi. Tapi, guru itu juga tidak tau jalan yang akan dilalui kami. Pertama-tama, diberikan perintah. Perintahnya mengatakan bahwa perkampungan yang akan kami perkelompok tempuh adalah jalan yang memiliki jalan berbelokan. Sehingga kita harus melihat sandi yang ada di setiap belokan.

    Saat itu malam sudah larut, sehingga suasananya pun lebih mendebarkan. Setelah menunggu, tibalah giliran kelompokku yang keluar dari Villa, dan menuju perkampungan tempat jurit malam dilaksanakan. Pertama, kami melihat ada suatu belokan. Kami pun mengikuti sandi yang ada. Lalu, kami tiba di POS 1. Disana dua dari temanku menjadi perwakilan untuk mengambil ember di sungai. Setelah melewati tantangan pertama, kelompok kami pun melewati jembatan. Di ujung jembatan, ada seorang satpam yang memerintahkan kami untuk jalan lurus. Tanpa ragu, kami pun mengikuti perintahnya. Sebenarnya, itulah awal bagi ketersasaran kami.

    Setelah jalan lurus, kami melihat bahwa kami sedang ada di tengah-tengah sawah. Kami pikir, sawah itu adalah salah satu dari rute kami. Setelah melewati sawah, terdapat belokan. Tapi, anehnya di belokan itu tidak ada sandi apa apa. Kami pun bingung. Akhirnya, diputuskan bahwa kami melewati jalan kiri. Karena, di kanan itu terdapat jalan raya. Setelah kami terus melewati jalan ini, kami mulai merasa bingung. Tiba-tiba, dikiri kami terdapat kuburan. Tapi, karena tak sadar bahwa kami menempuh jalan tersasar, kami pun terus saja. Tiba tiba didepan kami pun tertulis bahwa kami menuju ke suatu taman wisata. Kami pun merasa aneh. Akhirnya salah satu guruku menelphone seorang penanggung jawab jurit malam nya. Ternyata, ia memberitahu kan pada kami, bahwa jalan kami itu salah.

 Akhirnya setelah menunggu lama di jalanan, penanggung jawabnya pun datang. Ia pun memerintahkan kami untuk kembali ke ujung jembatan, dimana ada seorang satpam yang mengatakan bahwa kami harus menuju jalan yang tersasar itu. Saat kami balik, kami baru sadar bahwa di situ tertulis tanda X, yaitu tanda yang tak boleh dilewati. Kami pun menjalani jalan yang benar menuju POS 2. Di POS 2, terdapat tantangan yaitu melewati lumpur. Lumpurnya sangat lengket. Lalu, kami juga harus mengambil ikan, yang akhirnya harus di jatuhkan disungai. Setelah itu, kita sampai ke tantangan terakhir. Ditantangan ini, guru pendamping tidak boleh ikut. Jadi akhirnya kami pun jalan lagi tanpa guru. Di sana, diperintahkan bahwa kami harus mengambil 3 buah bola kecil, dan 1 buah bola besar. Pertama, kami melihat ada sebuah ember.

 Didalamnya terdapat seperti serangga, dan diatasnya terdapat bola. Akhirnya, ada seorang temanku yang mengambil bola itu. Berikutnya, ada ember yang tinggi. Akhirnya, aku mengambil bola nya. Kamipun melanjutkan jalan. Tiba tiba kami melihat putih putih lewat. Kami sedikit takut. Lalu, ia berteriak. Kami pun ikut berteriak, dan lari balik ke tempat guru gurunya. Kami pun tak berhasil melewatkan tantangan itu. Kami diberi kesempatan lagi. Tapi, tak semua murid kelompokku berani. Hanya aku dan beberapa temanku saja. Lalu, aku berada dibarisan paling depan, karena teman teman ku mengatakan aku yang paling ingin mengikuti kesempatan ke dua ini. Kami pun berhasil mengambil bola satu lagi. Kini tingal satu buah bola besar. Kami berjalan pelan pelan. Tiba tiba kami disuruh berhenti karena waktunya sudah habis. Kami pun balik ke Villa. Kami selesai dari jurit malam ini jam kurang lebih 1:30 pagi.

Thanks untuk membaca!

Minggu, 10 Maret 2013


Perkembangan Individu


1. Pengertian Perkembangan
Perkembangan adalah suatu proses tertentu yaitu proses yang terus menerus dan proses yang menuju kedepan dan tidak begitu saja dapat diulang kembali. Mengenai apa yang dimaksud dengan istilah “perkembangan” ada beberapa psikolog yang lebih setuju untuk menggunakan istilah “pertumbuhan”.
Tetapi meskipun demikian, kebanyakan para ahli psikologi cenderung membedakan pengertian kedua istilah tersebut ; “pertumbuhan” dimaksudkan untuk menunjukkan kepada perubahan-perubahan bersifat kuantitatif yang menyangkut aspek fisik jasmaniah, sebagai contoh : perubahan struktur dan organ fisik, sehingga semakin besar anak,semakin tinggi badannya. Istilah perkembangan secara khusus diartikan sebagai perubahan-perubahan yang bersifat kualitatif dan kuantitatif yang menyangkut aspek mental psikologis manusia, misalnya ; perubahan-perubahan yang berkaitan dengan pengetahuan, keyakinan agama, dan moral.
Pertumbuhan fisik akan mempengaruhi perkembangan mental psikologis manusia dengan cara pertumbuhan fisik menghasilkan unsure kematangan fungsi fisik yang akan menjadi bahan mentah dan penentu batas kualitas perkembangan.
Dalam keseluruhan perkembangan manusia dari konsepsi sampai mati, proses pertumbuhan fisik tampak mendahului proses perkembangan mental psikologis.
Pertumbuhan fisik berlangsung sejak konsepsi dan selesai pada masa akil-baligh, sedangkan proses perkembangan mental psikologis dimulai setelah masa “resting age” lebih kurang 15 hari setelah lahir dan berakhir apabila ia telah memasuki liang lahat.
1.1. Perkembangan menurut Aliran Asosiasi
Para ahli yang mengikuti aliran asosiasi berpendapat bahwa pada hakekatnya perkembangan itu adalah proses asosiasi. Bagi para ahli yang mengikuti aliran ini yang primer adalah bagian bagian, bagian bagian ada lebih dulu, sedangkan keseluruan ada kemudian. Bagian bagian itu terikat satu sama lain menjadi suatu keseluruhan oleh asosiasi.
Jadi misalnya bagaimana terbentuknya pengertian lonceng pada anak-anak, mungkin akan diterangkan demikian: mungkin anak anak itu mendengar suara lonceng lalu memperoleh kesan pendengaran bagaimana tentang lonceng; selanjutnya anak-anak itu melihat lonceng tersebut lalu mendapat kesan penglihatan (mengenai warna dan bentuk); selanjutnya mungkin anak itu mempunyai kesan rabaan jika sekiranya dia mempunyai kesempatan untuk meraba lonceng tersebut. jadi gambaran mengenai lonceng itu makin lama makin lengkap.
Salah seorang tokoh aliran asosiasi yang terkenal adalah john locke. Locke berpendapat bahwa pada permulaannya jiwa anak itu adalah bersih semisal selembar kertas putih, yang kemudian sedikit demi sedikit terisi oleh pengalaman empiri. Dalam hal ini locke membedakan adanya dua macam pengalaman, yaitu:
ü Pengalaman luar, yaitu pengalaman yang diperoleh dengan melalui panca indra.
ü Pengalaman dalam, yaitu pengalaman mengenai keadaan dan kegiatan batin sendiri.
1.2. Perkembangan menurut Tipologi Gestal
Pengikut-pengikut aliran psikologi Gestalt mengemukakan konsep yang berlawanan dengan konsepsi yang dikemukakan oleh para ahli yang mengikuti aliran asosiasi. Bagi para ahli yang mengikuti gestalt, perkembangan itu adalah proses diferensiasi. Dalam proses diferensiasi itu yang primer adalah keseluruhan, sedangakan bagian bagian adalah skunder; bagian-bagian hanya mmpunyai arti sebagai bagian dari pada keseluruhan dalam hubungan fungsional dengan bagian-bagian yang lain; keseluruhan ada terlebih dahulu disusul oleh bagian-bagiannya. Kalau kita ketemu dengan seorang teman misalnya, dari kejauhan yang kita saksikan terlebih dahulu bukanlah bajunya yang baru atau vulpennya yang bagus, atau dahinya yang terluka, melainkan justru teman kita itu sebagai keseluruhan. Baru kemudian kita susul dengan menyaksikan adanya hal-hal khusus tertentu. Misalnya: bajunya baru dan sebagainya.
Juga pengenalan anak terhadap dunia luar merupakan proses diferensiasi. Mula-mula anak merasa satu dengan dunia sekitarnya, baru kemudian ada diferensiasi: dia merasa (mengetahui) dirinya sebagai suatu yang berbeda dari dunia sekitarnya. Lebih jauh dia dapat membedakan bahwa dunia sekitanya itu terdiri dari manusia dan bukan manusia.
1.3. Perkembangan menurut Aliran Sosiologis
Para ahli yang mengikuti aliran sosiologisme menganggap bahwa perkembangan adalah proses sosialisasi. Anak manusia mula mula bersifat a-sosial (pra-sosial) yang kemudian dalam perkembangannya sedikit demi sedikit disosialisasikan.
Perkembangan merupakan suatu proses sosialisasi dalam bentuk irnitasi yang berlangsung dengan adaptasi (penyesuaian) dan seleksi. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan manusia adalah keturunan, lingkungan, dan manusia itu sendiri.
2. Fase-fase perkembangan menurut beberapa ahli psikologi
2.1. Santrok dan Yussen
2.1.1. Fase pra natal (saat dalam kandungan) adalah waktu yang terletak antara masa pembuahan dan masa kelahiran. Pada saat ini terjadi pertumbuhan yang luar biasa dari satu sel menjadi satu organisme yang lengkap dengan otak dan kemampuan berperilaku, dihasilkan dalam waktu lebih kurang sembilan bulan.
2.1.2. Fase bayi adalah saat perkembangan yang brrlangsung sejak lahir sampai 18 atau 24 bulan. Masa ini adalah masa ynng sangat. Bergantung kepada orang tua. Banyak kegiatan-kegiatan psikologis yang baru dimulai misalnya; bahasa, koordinasi sensori motor dan sosialisasi.
2.1.3. Fase kanak-kanak awal adalah fase perkembangan yang berlangsung sejak akhir masa bayi sampai 5 atau 6 tahun, kadang-kadang disebut masa pra sekolah. Selama fase ini mereka belajnr melakukan sendiri banyak hal dan berkembang keterampilan-keteranipilan yang berkaitan dengan kesiapan unttik bersekolah dan memanfaatkan waktu selama beberapa jam untuk bermain sendiri ataupun dengan temannya. Memas.uki kelas satu SD menandai berakhirnya fase ini.
2.1.4. Fase kannk-knnak tengah dan akhir adalah fase perkembangan yang berlangsung sejak kira-kira umur 6 sampai 11 tahun, sama dengan masa usia sekolah dasar. Anak-anak menguasai keterampilan-keterampilan dasar membaca, menulis dan berhitung. Secara formal mereka mulai
memastiki dunia yang lebih luas dengan budayanya. Pencapaian prestasi menjadi arah perhatian pada dunia anak, dan pengendalian diri sendiri bertambah pula.
2.1.5. Masa remaja adalah masa perkembangan yang merupakan transisi dr.ri masa Nanak-kanak ke masa dewasa? aval, yang dimulai kira-kira timur 10 sampai 12 tahun dan berakhir kira-kira umur 18 sampai 22 tahun. Remaja mengalami perubahan-penibahan fisik yang sangat cepat, perubahan perbandingan ukuran bagian-bagian badan
2.2. Charlote Buhler
2.2.1. Fase 0-1 tahun : Masa-masa menghayati obyek-obyek di luar diri sendiri, dan saat melatih fungsi-fungsi terutama melatih fungsi motorik: yaitu fungsi-fungsi yang berkaitan dengan gerakan-gerakan dari badan dan anggota badan.
2.2.2. B. Fase 2-4 tahun : Masa pengenalan dunia obyektif di luar diri sendiri disertai penghayatan subyektif.
2.2.3. Fase 5-8 tahun : masuk pada sosialisasi anak. Pada saat ini anak mulai memasuki masyarakat luas (misalnya taman kanak-kanak, pergaulan dengan kawan-kawan sepermaian dan sekolah rendah).
2.2.4. Fase 9-11 tahun : masa sekolah rendah. Pada periode ini anak mencapai obyektifitas tertinggi.
2.2.5. Fase 14-19 tahun : masa tercapainya sintesa antar sikap ke dalam batin sendiri dengan sikap ke luar kepada dunia obyektif.
2.3. Perkembangan individu dalam Islam menurut Netty Hartati dkk (2004)
2.3.1. Fase Pra-Natal
Fase perkembangan manusia pada masa prenanatal ini sebagaimana dijelaskan baik dari sumber hadits dan al-Qur’an merupakan proses yang saling berkaitan, pada periode pra-natal ini dimana sifat bawaan dan jenis kelamin individu. Dalam masa ini merupakan langkah awal perkembangan dan pertumbuhan serta pembentukan kepribadian, maka sebagian ulama menyarankan dalam masa seorang ibu yang hamil hendak sering membaca Al-Qur’an dan banyak melakukan perbuatan yang baik dan terpuji sehingga perbuatan yang baik tersebut akan menjadi kepribadian anak dalam kandungan tersebut.
2.3.2. Fase Lahir
Fase lahir merupakan permulaan atau periode awal keberadaan sebagai individu dan pada masa ini dimulai dari kelahiran dan berakhir pada saat bayi menjelang dua minggu dan periode ini janin mulai menyesuaikan dirinya dengan kehidupan di luar hamil.
2.3.3. Fase Dua Tahun Pertama
Rasulullah SAW bersabda tentang pendidikan anak tersebut sebagaimana sabdanya yang berbunyi:
“Mulailah mendidik anak-anak kalian dengan kalimat yang pertama : Laa ilaha illallah (Tidak ada Tuhan selain Allah), bimbinglah mereka ketika mereka berada dalam sekarat dengan laa ilaha illallah ! (H.R al-Baihaqi).
2.3.4. Fase kanak-kanak
Hukum tempo perkembangan menyatakan bahwa tiap-tiap anak memiliki tempo perkembangan yang berbeda. Anak juga memiliki masa peka, yaitu suatu masa di mana suatu organ atau unsur psikologis anak mengalami perkembangan yang sebaik-baiknya. Bagi seorang pendidik, mengetahui perkembangan anak diperlukan dalam membimbing anak sesuai dengan perkembangannya.

3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan
3.1. Nativisme
Para ahli yang beraliran Nativisme berpendapat bahwa perkembangan individu semata-mata tergantung kepada faktor dasar/pembawawaan. Tokoh utama dari aliran ini adalah Schopenhauere.
3.2. Empirisme
Sedangkan para ahli dari golongan empirisme yang di prakarsai oleh John Locke, berpendapat bahwa perkembangan individu sepenuhnya ditentukan oleh faktor lingkungan/pendidikan.
3.3. Konvergensi
Aliran yang nampak menengahi kedua pendapat tersebut adalah aliran konvergensi yang diketuai oleh William Sterm, aliran ini berpendapat bahwa perkembangan individu sebenarnya ditentukan oleh kedua kekuatan tersebut.
Baik faktor dasar/pembawaan secara konvergent akan menentukan perkembangan seorang individu, tetapi sejauh mana pengaruh kedua faktor tersebut sukar untuk ditentukan. Tetapi tidak ada salahnya bila beberapa faktor tersebut kita tinjau :
1. Intelligensi
Berdasasrkan penelitian terman LM (Genetic Studies of Genius) dan Mead TD (The age of walking in relation to general intelligence) telah dibuktikan adanya pengaruh intelligensi terhadap tempo perkembangan anak terutama dalam perkembangan berjalan dan berbicara.
2. Seks
Perbedaan perkembangan antara kedua jenis seks tidak tampak jelas. Yang nyata terlihat adalah kecepatan dalam pertumbuhan jasmaninya. Pada waktu lahir anak laki-laki terlihat lebih besar dari ank perempuan, tetapi anak perempuan lebih cepat perkembangannya dan lebih cepat pula dalam mencapi kedewasaannya dari pada anak laki-laki.
3. Kelenjar-kelenjar
Hasil penelitian di lapangan indoktrinologi (kelenjar buntu) menunjukan adanya peranan penting dari kelenjr ini dalam pertumbuhan jasmani dan rohani dan jelas pengaruhnya terhadap perkembangan anak sebelum dan sesudah dilahirkan. Sebagai contoh, Kelenjar yang mengeluarkan kalsium yang letaknya di tenggorokan, jika kelenjar ini kurang mengeluarkan kalsium maka akan mempengaruhi tumbuhnya tulang-tulang dan otot-otot.
4. Kebangsaan (ras)
Anak-anak dari ras Mediteranian (lautan tengah) tumbuh lebih cepat dari anak-anak Eropah sebelah utara. Anak-anak Negro dan Indian rupanya pertumbuhan mereka tidak begitu cepat dibandingkan dengan anak-anak kulit putih dan kuning.
5. Posisi dalam keluarga
Kedudukan anak dalam keluarga merupakan keadaan yang dapat mempengaruhi perkembangan. Anak bungsu biasanya perkembangannya lebih lambat6 karen dimanja. Dalam hal anak tunggal perkembangan mentalitasnya cepat, karena pergaulan dengan orng-orang dewasa lebih besar.
6. Makanan
Perkembangan fisik dan mental anak-anak kita secara langsung atau tidak juga dipengaruhi oleh faktor makanan yang sehat dan cukup bergizi.
7. Kultur (Budaya)
Faktor budaya ini sangat besar pengaruhnya sehingga dapat mempengaruhi sifat kepribadian dan kedewasaan seseorang. Yang termasuk budaya disini selain budaya masyarakat juga termasuk didalamnya budaya pendidikan, agama, dan sebagainya.
Selain faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan diatas Elizabeth B. Hurlock mengemukakan beberapa hal yang menjadi penyebab terjadinya perkembangan (Cause of Development), yaitu:
a. Kematangan (Maturation)
b. Perkembangan fisik dan mental adalah sebagian akibat daaripada kodrat yang telah menjadi bawan dan juga daripada latihan dan pengalaman si anak. Pertumbuhan secar kodrat kadang-kadang timbulya secara sekonyong-konyong. Pada kanak-kanak sering kita lihat, tiba-tiba anak itu bisa berdiri, berjalan, berbicara dan sebagainya ynag kadang-kadang sesudah seseorang menilai bahwa anak itu sangat terbelakang dalam perkembangannya.
c. Belajar dan Latihan (Lerning)
Kombiansi kematangan dan belajar (Interaction of Maturation and Learning) Kedua sebab kematangan dan belajar itu tidak berlangsung sendiri-sendiri, tetapi bersama-sama. Biasanya melalui pelatihan yang tepat dan terarah dapat menghasilkan perkembangan yang maksimum, tetapi kdang-kadang meskipun bantuan kuat dan usahanya effektif tidak berhasil sesuai yang diharapkan, jika batas perkembangan lekas tercapai atau daya berkembangnya sangat terbatas.
Kematangan suatu sifat sangat penting bagi seorang pendidik untuk mengetahuinya, karena pada tingkat itulah si anak akan memberikan reaksi sebaik-baiknya terhadap semua usaha bimbingan yang sesuai bagi mereka. Telah banyak percobaan-percobaan diadakan untuk mengetahui sampai dimana seorang anak dapat berkembang hanya atas dasar kodrat dan sejauh mana atas dasar pengalaman. Hasilnya antara lain:
a. Pada tahun-tahun pertama kematangan ini penting karena memungkinkan pengajaran / pelatihan
b. Dalam hal perkembangan phylogenetic tidak terdapat perbedaan di antara anak kembar dan anak yang berbeda ras nya (Negro dan Amerika misalnya)
c. Belangsungnya secara bersama-sama antara pertumbuhan kodrat (kematangan) dengan pengajaran/pelatihan adalah sangat menguntungkan bagi perkembangan anak.
4. Sifat-sifat anak
4.1. Periodisasi berdasarkan Biologis
Periodisasi atau pembagian masa-masa perkembangan ini didasarkan pada keadaan atau proses biologis tertentu.
Aristoteles menggambarkan perkembangan anak sejak lahir sampai dewasa dalam tiga periode yang lamanya masing-masing 7 tahun sebagai berikut:
a. Fase anak kecil, dari 0,0-7,0, masa bermain.
b. Fase anak sekolah: dari 7,0-14,0; masa belajar atau masa sekolah rendah.
c. Fase remaja; dari umur 14,0-21,0; masa peralihan dari anak menjadi orang dewasa.
4.2. Periodisasi berdasarkan Diktatis
Salah seorang tokoh yang terkenal dalam pembagian periode ini ialah Comenius, yang sangat terkenal konsepsinya mengenai macam-macam sekolah yang disesuiakan dengan perkembangan anak; yaitu:
a. Masa sekolah ibu, untuk anak-anak umur 0,0-6,0.
b. Masa sekolah bahasa ibu, untuk anak-anak umur 6,0-12,0.
c. Masa sekolah bahasa latin, untuk anak-anak umur 12,0-18,0
d. Masa sekolah tinggi, untuk anak-anak umur 18,0-24,0.
Periodisasi perkembangan yang telah dikemukakan di atas merupakan pembagian lama yang membatasi periodisasi perkembangan hanya sejak lahir sampai masa dewasa (dari umur 0,0-21,0 atau 25,0).
Pembagian masa-masa perkembangan sekarang ini seperti yang dikemukakan oleh Harvey A. Tilker, phD dalam “Developmental Psychology To day” (1975) dan Elizabeth B. Hurlock dalam “Developmental Psychology” (1980) tampak sudah lengka mencangkup sepanjang hidup manusia sesuai dengan hakikat perkembangan manusia yang berlangsung sejak konsepsi sampai mati dengan pembagian periodisasinya sebagai berikut:
a. Masa sebelum lahir (pranatal) selama 9 bulan atau 280 hari.
b. Masa bayi baru lahir (new born) 0,0 sampai 2 minggu.
c. Masa bayi (babyhood) dari 2 minggu sampai 2,0.
d. Masa kanak-kanak awal (early childhood) dari 2,0 sampai 6,0.
e. Masa kanak-kanak akhir (later childhood) dari 6,0-12,0
f. Masa puber (puberty) dari 11,0 atau 12,0 sampai 15,0 atau 16,0.
g. Masa remaja (adolescence) dari 15,0 atau 16,0 sampai 21,0.
h. Masa dewasa awal (early adulthood) dari 21,0 sampai 40,0.
i. Masa dewasa madya (middle adulthood) dari 40,0 sampai 60,0.
j. Masa usia lanjut (later adulthood) dari 60,0 sampai …
4.3. Periodisasi berdasarkan Psikologis
Tokoh utama yang mendasarkan periodisasi ini pada keadaan psikologis ialah Oswald Kroch. Oleh Kroch masa kegoncangan ini disebutnya “Trotz Periode” dan selama perkembangannya anak mengalami dua kali Trotz Periode, yaitu:
a. dalam tahun ketiga, atau kadang-kadang juga pada permulaan tahun keempat;
b. pada permulaan masa pubertas; bagi anak laki-laki pada tahun ketiga belas.
Kedua Trotz Periode inilah yang membatasi antara fase yang satu dengan fase yang lainnya. dengan demikian Oswald Kroch membagi masa perkembangan anak menjadi tiga fase:
a. Dari lahir sampai masa Trotz pertama, yang biasanya disebut masa anak-anak awal.
b. Dari masa Trotz pertama sampai masa Trotz kedua, yang biasanya disebut masa keserasian bersekolah.
c. Dari masa Trotz kedua sampai akhir remaja, yang biasanya disebut masa kematangan. Umur berakhirnya masa remaja itu tidak dapat dipastikan tetapi sebagai ancar-ancarnya pada umur 21 tahun.
5. Kesimpulan dan Penutup
5.1. Psikologi perkembangan ialah suatu ilmu yang merupakan bagian dari psikologi. Dalam ruang lingkup psikologi, ilmu ini termasuk Psikologi Khusus, yaitu Psikologi yang mempelajari kekhususan dari pada tingkah laku individu.
5.2. Kegunaan mempelajari Psikologi Perkembangan, antara lain :
5.2.1. Mengetahui fakta-fakta dan perinsip-perinsip mengenal tingkah laku manusia.
5.2.2. Untuk memahami kepribadian sendiri.
5.2.3. Untuk menilai tingkah laku yang normal.
5.3. “Perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan yang sistematis (perubahan yang bersifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya, baik fisik maupun psikis dan merupakan satu kesatuan yang harmonis), progresif (perubahan yang terjadi bersifat maju, meningkat dan meluas, baik secara kuantitatif/fisik mapun kualitatif/psikis), dan berkesinambungan (perubahan pada bagian atau fungsi organisme itu berlangsung secara beraturan atau berurutan) dalam diri individu sejak lahir hingga akhir hayatnya atau dapat diartikan pula sebagai perubahan – perubahan yang dialami individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangannya”. (Yusuf, 2003:15). Setiap individu akan mengalami proses perkembangan yang berlangsung melalui tahapan-tahapan perkembangan secara berantai.
5.4. Penutup
Demikianlah makalah yang penulis buat, tentunya disana-sini masih banyak kekurangan dan perlu disempurnakan agar problematika perkembangan individu jauh lebih dapat dipelajari dan menjadi acuan pembelajaran khususnya penulis dan para pembaca.